Setiap tanggal 11 Oktober, dunia memakai warna pink, ungu, atau oranye. Media sosial ramai dengan ucapan, poster inspiratif, dan foto-foto anak perempuan dengan senyum penuh harapan. Tapi, pernah nggak sih kita berhenti sejenak dan bertanya: di balik kemeriahan simbolis ini, apa sih esensi sebenarnya dari peringatan Hari Anak Perempuan Sedunia atau International Day of the Girl Child ini? Apakah sekadar hari untuk memberi hadiah dan ucapan manis? Atau ada misi yang jauh lebih besar, lebih dalam, aristotleatafternoontea.com dan—jujur saja—lebih mendesak untuk digaungkan?
Asal-Usul yang Berawal dari Suara Kolektif
Gagasan untuk punya hari khusus buat anak perempuan bukan muncul tiba-tiba. Ini adalah hasil dari advokasi panjang organisasi non-pemerintah dan gerakan akar rumput yang melihat sebuah pola yang mengkhawatirkan: dalam banyak isu global—mulai dari kemiskinan, pendidikan, hingga kesehatan—anak perempuan seringkali berada di posisi paling rentan. Mereka menghadapi tantangan ganda: karena usianya (masih anak-anak) dan karena gendernya (perempuan).
Pada tahun 2011, setelah desakan dari berbagai pihak, terutama Plan International melalui kampanye "Because I am a Girl", Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) akhirnya mendeklarasikan tanggal 11 Oktober sebagai Hari Anak Perempuan Sedunia. Resolusi ini bukan sekadar kalender kosong. Ini adalah pengakuan resmi dunia bahwa hak-hak anak perempuan, potensi mereka, dan tantangan unik yang mereka hadapi perlu mendapat perhatian khusus. Setiap tahunnya, ada tema spesifik yang diangkat, fokusnya berganti, tapi intinya tetap: memperjuangkan kesetaraan dan memberdayakan anak perempuan di mana pun mereka berada.
Realita di Balik Senyum: Tantangan yang Masih Membayangi
Kalau kita mengira dunia sudah sepenuhnya ramah untuk anak perempuan, data dan fakta di lapangan bisa bikin kita tercengang. Peringatan ini justru penting karena realitanya masih banyak yang harus dibenahi.
Pendidikan: Bukan Hanya Soal Bisa Baca Tulis
Iya, angka partisipasi sekolah mungkin sudah naik. Tapi coba kita lihat lebih detail. Banyak anak perempuan, terutama di daerah terpencil atau dari keluarga dengan ekonomi lemah, yang putus sekolah ketika memasuki masa remaja. Alasannya kompleks: mulai dari jarak sekolah yang jauh dan dianggap tidak aman, biaya yang tak terjangkau, hingga norma sosial kuno yang menganggap pendidikan tinggi untuk perempuan bukanlah prioritas. Belum lagi kalau sudah menyangkut fasilitas sanitasi di sekolah—ketersediaan toilet bersih dan privasi yang layak saat menstruasi bisa menjadi penghalang besar bagi seorang anak perempuan untuk tetap konsisten bersekolah.
Kekerasan Berbasis Gender: Ancaman yang Tak Kasat Mata
Ini mungkin momok terbesar. Kekerasan terhadap anak perempuan bisa berbentuk fisik, seksual, psikologis, dan bahkan digital. Perkawinan anak, misalnya, adalah bentuk kekerasan yang masih terjadi dan merampas masa kecil, pendidikan, serta kesehatan mereka. Di ranah online, ancaman baru muncul: perundungan siber, eksploitasi, dan pelecehan. Lingkungan yang seharusnya menjadi tempat bermain dan belajar, bisa berubah jadi medan perang yang menakutkan.
Stigma dan Stereotip: Penjara Bernama Ekspektasi
"Anak perempuan harus lemah lembut." "Itu kan mainan laki-laki." "Nanti juga jadi ibu rumah tangga, buat apa sekolah tinggi-tinggi?" Kalimat-kalimat seperti ini, meski terdengar klise, masih sering terucap dan membentuk dinding tak terlihat yang membatasi mimpi anak perempuan. Stereotip gender ini membatasi pilihan mereka sejak kecil, dari mainan yang boleh dimainkan, pelajaran yang "cocok", hingga cita-cita yang "pantas" diimpikan.
Mengapa Memberdayakan Anak Perempuan Itu Investasi Terbaik untuk Dunia?
Nah, ini bagian yang sering bikin semangat. Membela hak anak perempuan bukan cuma soal "berbuat baik". Ini adalah strategi pembangunan yang cerdas dan punya dampak berantai yang luar biasa. Para ekonom dan pakar sosial bahkan punya data konkretnya.
Bayangkan seorang anak perempuan bisa menyelesaikan pendidikannya, setidaknya sampai tingkat menengah. Apa yang terjadi? Dia cenderung menikah lebih tua, punya kesehatan reproduksi yang lebih baik, dan punya peluang ekonomi yang lebih luas. Dia akan menjadi ibu yang lebih berdaya, yang kemungkinan besar akan menyekolahkan anak-anaknya—baik laki-laki maupun perempuan—lebih tinggi lagi. Ini adalah siklus positif yang memutus rantai kemiskinan dan ketidaksetaraan. Perempuan yang berpendidikan berkontribusi lebih besar pada pendapatan keluarga dan perekonomian nasional. Singkatnya, ketika kita menginvestasikan sumber daya pada seorang anak perempuan, kita sebenarnya sedang menginvestasikan masa depan sebuah komunitas, bahkan sebuah bangsa.
Bukan Hanya Tugas Pemerintah: Apa yang Bisa Kita Lakukan?
Mendengar semua ini mungkin bikin kita merasa kecil. "Apa yang bisa aku lakukan?" Tenang, peran kita sebagai individu, orang tua, guru, atau anggota masyarakat tetap sangat krusial. Hari Anak Perempuan Sedunia mengingatkan kita bahwa perubahan bisa dimulai dari hal-hal yang dekat.
- Dengarkan Suara Mereka: Yang paling utama, beri ruang bagi anak perempuan di sekitar kita untuk berbicara, mengungkapkan pendapat, dan bercerita tentang mimpinya. Jadilah pendengar yang aktif tanpa menghakimi.
- Hancurkan Bias di Rumah: Mulai dari lingkungan keluarga. Jangan bedakan tugas antara anak laki-laki dan perempuan. Beri kebebasan memilih mainan, buku, dan aktivitas berdasarkan minat, bukan gender. Puji kecerdasan dan ketekunan mereka, bukan hanya penampilannya.
- Dukung Pendidikan dan Minatnya: Entah itu dengan menjadi mentor, menyumbangkan buku, atau sekadar memberi semangat pada keponakan atau anak tetangga yang punya ketertarikan di bidang sains, olahraga, atau seni yang mungkin masih dianggap "jarang" untuk perempuan.
- Jadi Contoh yang Baik: Perilaku kita adalah pelajaran paling powerful. Perlakukan semua orang dengan hormat, tolak lelucon seksis, dan tunjukkan bahwa perempuan bisa berperan di ranah apa pun.
- Bersuara Melawan Ketidakadilan: Jika melihat atau mendengar kasus diskriminasi, perundungan, atau kekerasan terhadap anak perempuan, jangan diam. Laporkan atau cari pertolongan. Dukungan kita bisa menjadi tameng bagi mereka.
Melihat Ke Depan: Dunia seperti Apa yang Kita Inginkan untuk Anak Perempuan?
Peringatan Hari Anak Perempuan Sedunia pada akhirnya adalah tentang masa depan. Ini adalah momen refleksi sekaligus aksi. Kita ingin membangun dunia di mana setiap anak perempuan bisa tidur tanpa rasa takut, bersekolah tanpa halangan, bermimpi tanpa batas, dan memimpin tanpa keraguan.
Dunia yang ideal itu adalah dunia di mereka tidak perlu berjuang ekstra keras hanya untuk didengar. Dunia di mana mereka bisa menjadi apa pun: programmer, astronot, atlet, seniman, ilmuwan, atau ibu rumah tangga—semata-mata karena itu adalah pilihan mereka, bukan karena paksaan atau batasan sosial.
Jadi, lain kali ketika kita melihat warna pink atau ungu menghiasi timeline di tanggal 11 Oktober, ingatlah bahwa itu lebih dari sekadar estetika. Itu adalah warna perlawanan terhadap ketidaksetaraan, warna harapan untuk masa depan yang lebih setara, dan warna pemberdayaan untuk setiap anak perempuan yang berhak menuliskan ceritanya sendiri. Mari jadikan momentum ini bukan hanya seremonial tahunan, tapi pengingat harian untuk bertindak, dalam cara kita yang paling mungkin. Karena setiap hari seharusnya adalah hari untuk mendukung, melindungi, dan merayakan potensi luar biasa dari setiap anak perempuan.