Pernah nggak sih, di tengah kesibukan yang begitu padat, kamu tiba-tiba berhenti sejenak? Mungkin saat menunggu lampu merah, atau di sela-sela meeting online yang melelahkan. Lalu, tanpa sengaja, pandanganmu tertuju ke jendela. Melihat langit biru yang luas, atau mungkin awan yang berarak dengan bentuknya yang unik. Ada perasaan tenang yang singgah, sebentar saja, sebelum kemudian kamu kembali disergap oleh daftar tugas yang belum kelar. Rasanya seperti ada sesuatu yang besar, sesuatu yang jauh melampaui rutinitas kita, sedang berbicara diam-diam. Nah, kira-kira seperti itulah esensi yang ingin disentuh oleh ayat Al Quran dalam Surah Ali Imran, tepatnya ayat yang ke 190.
Al Imran 190 itu seperti sebuah pengingat halus dari alam semesta. Ia tidak menggurui dengan keras, tapi mengajak kita untuk membuka mata dan hati, untuk benar-benar *melihat*. Bukan sekadar memandang, tapi mengamati dengan kesadaran penuh. Ayat ini jadi semacam kunci untuk membuka pintu pemahaman yang lebih dalam tentang hidup, tentang tujuan kita, dan tentang Sang Pencipta. Yuk, kita baca dulu bunyi ayatnya:
"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal." (QS. Ali Imran: 190).
Kelihatannya sederhana, ya? Tapi coba kita renungi lebih dalam. Ayat ini sebenarnya adalah undangan untuk menjadi seorang *observer* atau pengamat kehidupan yang cerdas. Ia menunjuk langsung pada dua hal yang sering kita anggap remeh: langit-bumi dan siang-malam. Mari kita ulik maknanya bareng-bareng.
Bukan Sekadar Pemandangan: Langit dan Bumi sebagai Buku Terbuka
Allah SWT tidak memulai dengan hal-hal yang rumit dan filosofis. Dia justru menunjuk pada hal yang paling kasat mata: langit dan bumi. Setiap hari kita melihatnya, tapi seberapa sering kita memikirkannya?
Langit: Kanvas Maha Besar yang Tak Pernah Sama
Pikirkan tentang langit. Di siang hari, warnanya biru cerah karena hamburan cahaya matahari. Tapi biru itu bukan warna cat yang statis. Ia berubah gradasinya, dari biru muda di dekat cakrawala hingga biru tua di atas kepala. Lalu ada awan—sang pemain bentuk yang tak pernah kehabisan ide. Kadang seperti kapas, kadang seperti gelombang, atau seperti aneka hewan dalam imajinasi kita. Di malam hari, langit berubah total. Ia menjadi hitam peh yang dihiasi bintang-bintang gemerlap. Setiap bintang itu adalah matahari yang jaraknya begitu jauh, cahayanya butuh waktu tahunan bahkan ribuan tahun untuk sampai ke bumi. Langit itu adalah bukti skala yang tak terbayangkan. Ia mengingatkan kita betapa kecilnya kita, sekaligus betapa istimewanya kita bisa menyaksikan semua keagungan ini.
Bumi: Panggung Kehidupan dengan Desain Sempurna
Lalu turunkan pandanganmu ke bumi. Tanah tempat kita berpijak. Lihat pepohonan yang menghijau, menyerap karbon dioksida dan menghasilkan oksigen untuk kita hirup. Sistemnya sempurna. Lihat gunung yang menjulang, berfungsi sebagai pasak bumi yang menstabilkan. Lihat lautan yang luas, mengatur iklim dunia, menjadi sumber kehidupan bagi milyaran makhluk. Bahkan tubuh kita sendiri adalah bagian dari "bumi"—terbuat dari elemen-elemen yang sama dengan tanah. Dari biji kopi yang ditanam, dipanen, disangrai, hingga menjadi secangkir kopi yang kita nikmati pagi ini, semuanya adalah cerita panjang tentang bumi yang bekerja dengan hukum yang teratur. Ini semua kebetulan? Atau ada Desainer Ulung di baliknya?
Pergantian Siang dan Malam: Ritme Ilahi yang Menenteramkan
Selain langit dan bumi, Al Imran 190 juga menyoroti satu siklus yang paling konsisten dalam hidup kita: pergantian siang dan malam. Bayangkan jika bumi tidak berotasi. Satu sisi akan terpanggang matahari selamanya, sisi lainnya membeku dalam kegelapan abadi. Tidak akan ada kehidupan.
Pergantian ini adalah wujud kasih sayang. Siang memberi kita cahaya, kehangatan, dan energi untuk beraktivitas, bekerja, mencari ilmu, funtec-guatemala.org dan berkarya. Ia adalah waktu untuk "memberi". Sementara malam datang dengan senjanya yang gelap dan suhunya yang lebih dingin. Ia adalah waktu untuk "berhenti". Untuk istirahat, memulihkan tubuh, merenung, bermuhasabah, dan berkumpul dengan keluarga. Ritme ini seperti napas: ada tarikan (siang) dan hembusan (malam). Tanpa salah satunya, kita akan kelelahan atau stagnan.
Coba perhatikan, betapa kita sering melawan ritme ini. Begadang hingga larut, lalu bangun kesiangan. Kita mengacaukan jam biologis tubuh yang sudah diatur sedemikian rupa oleh Sang Pencipta melalui siklus siang-malam ini. Ayat ini mengajak kita untuk kembali selaras, untuk menghargai waktu dan fitrah yang telah ditetapkan.
Siapa yang Diajak Bicara? Bagi "Ulil Albab"
Nah, ini poin krusialnya. Ayat ini tidak mengatakan "bagi semua manusia". Tapi spesifik: "bagi orang yang berakal" (uli al-albab). Siapa mereka? Bukan sekadar orang yang punya IQ tinggi atau gelar akademik mentereng. Ulil albab adalah orang yang menggunakan akal dan hatinya secara bersamaan. Mereka yang melihat fenomena alam, lalu pikirannya bekerja: "Ini pasti ada yang menciptakan. Ini terlalu rumit dan teratur untuk terjadi begitu saja." Lalu hatinya tergerak: "Maha Besar Engkau, ya Allah."
Prosesnya dari pengamatan (observation) ke kontemplasi (reflection), lalu berujung pada pengakuan dan ketundukan (submission). Jadi, melihat langit yang indah saja tidak cukup. Harus ada langkah berikutnya: berpikir dan mengambil pelajaran. Kalau cuma bilang, "Wah, cantik ya langitnya," lalu upload story Instagram dan selesai, kita mungkin melewatkan inti dari Al Imran 190.
Menerapkan Spirit Al Imran 190 di Zaman Now
Lalu, gimana caranya biar kita nggak cuma baca ayat ini, tapi juga jadi bagian dari *uli al-albab* itu? Nggak perlu langsung jadi ilmuwan astrofisika. Bisa dimulai dari hal-hal sederhana.
- Tech Detox di Alam Terbuka: Cobalah sesekali, mungkin di akhir pekan, pergi ke taman, bukit, atau pantai. Matikan notifikasi ponsel untuk beberapa jam. Duduk, diam, dan amati sekeliling. Dengarkan desau angin, kicau burung, debur ombak. Rasakan betapa segala sesuatu berjalan dalam sistem yang harmonis. Ini adalah bentuk latihan *mindfulness* yang langsung bersumber dari petunjuk Quran.
- Menghargai Ritme Waktu: Coba disiplinkan tidur dan bangun sesuai dengan waktu yang alamiah. Bangun lebih awal untuk shalat Subuh dan menyaksikan fajar—salah satu tanda kekuasaan Allah yang disebut di banyak ayat. Rasakan ketenangan pagi sebelum dunia ramai. Hormati malam dengan tidak menjejali diri dengan aktivitas yang tak perlu, beri waktu tubuh dan pikiran untuk istirahat benar.
- Belajar Sains dengan Niat Iman: Saat membaca atau menonton konten sains—entah tentang luar angkasa, lautan, atau sel tubuh—jadikan itu sebagai jalan untuk menguatkan keimanan. Setiap penemuan baru tentang kompleksitas DNA atau keindahan nebula di angkasa, seharusnya membuat kita semakin berkata, "Subhanallah, benar apa yang difirmankan dalam Al Imran 190."
- Refleksi Diri Melalui Ciptaan-Nya: Jika alam semesta yang maha luas ini tertata dengan rapi dan patuh pada hukum-Nya (sunnatullah), maka sebagai bagian kecil dari ciptaan-Nya, sudahkah hidup kita tertata dan selaras dengan aturan-Nya? Pertanyaan reflektif seperti ini bisa jadi pintu untuk introspeksi diri.
Dampaknya dalam Keseharian: Lebih Tenang dan Bersyukur
Ketika kita mulai membiasakan diri "membaca" tanda-tanda di langit dan bumi, pola pikir kita berubah. Masalah yang tadinya terasa besar, jadi terlihat lebih proporsional di hadapan langit yang maha luas. Kita jadi lebih mudah bersyukur untuk hal-hal sederhana: udara yang bersih untuk dihirup, air jernih untuk diminum, matahari yang memberi kehangatan. Rasa gelisah dan khawatir berlebihan pun berkurang karena kita ingat bahwa dunia ini berjalan di bawah pengaturan Dzat yang Maha Tahu dan Maha Bijaksana. Trust the process, karena prosesnya adalah ciptaan Allah.
Konteks yang Lebih Luas: Ayat 190, 191, dan 192
Biasanya, pembahasan Al Imran 190 nggak berhenti di situ saja. Ayat berikutnya (191) langsung menggambarkan profil *uli al-albab* itu: "(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), 'Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.'"
Jadi, rangkaiannya jelas: Lihat alam -> Pikirkan -> Ingat Allah -> Mohon perlindungan. Ini adalah siklus spiritual yang sempurna. Alam mengingatkan kita pada Allah, lalu pengingatan itu membawa kita pada kesadaran akan akhirat dan memohon keselamatan. Ayat 192 kemudian adalah doa mereka yang sadar: "Ya Tuhan kami, sungguh, barangsiapa yang Engkau masukkan ke dalam neraka, maka sungguh, telah Engkau hinakan dia…"
Artinya, pemahaman terhadap alam semesta bukan untuk kesombongan intelektual, tapi justru untuk merendahkan diri di hadapan Sang Pencipta dan memohon agar dijauhkan dari siksa-Nya.
Sebuah Ajakan untuk Hidup yang Lebih "Awake"
Pada akhirnya, Al Imran 190 adalah sebuah ajakan untuk hidup dengan kesadaran penuh (to live awake). Di era yang penuh dengan gangguan digital ini, perhatian kita tercerai-berai. Kita lebih sering menatap layar yang kecil daripada menengadah ke langit yang luas. Ayat ini mengajak kita untuk melawan arus itu sejenak.
Ia mengajak kita untuk jadi manusia yang tidak hidup secara otomatis. Tapi manusia yang memaknai setiap detik, yang melihat keagungan di balik hal yang biasa, dan yang menemukan jalan kepada Tuhan melalui jejak-jejak kekuasaan-Nya yang bertebaran di semesta. Jadi, lain kali kamu melihat matahari terbenam atau bintang bertaburan, ingatlah itu lebih dari sekadar pemandangan. Itu adalah sebuah ayat, sebuah tanda, sebuah undangan langsung dari Allah SWT untuk mengenal-Nya. Sudah siap menerima undangannya?